Jadi, aku menulis ini sebenernya terinspirasi sama salah satu Youtuber Indonesia, Agung Hapsah. Dimana Agung Hapsah juga terinspirasi oleh Deddy Corbuzier saat melakukan hal ini. Hmm, bisa dibilang inspo-ception lah ya. Deddy Corbuzier memutuskan untuk stop melakukan hal-hal yang bisa dibilang udah dia kuasai banget, kemudian mulai melakukan hal-hal yang nggak dia suka. At all. Seperti nge-host. Deddy melakukan hal yang nggak dia suka sama sekali ini sampai dia expert dibidang tersebut. Nah kemudian si Agung Hapsah terinspirasi dan melakukan hal-hal yang dia nggak suka sampai expert dihal tersebut. Terus aku mikir. Eh selama ini aku gini lho! I hate household chores and everyday cooking. Benci banget. Sampai aku tuh emang nggak pernah nyapu karena alergi debuku parah, dan itu jadi alasan buat aku nggak pernah beres-beres. Pada dasarnya aku cuma males dan benci banget beres-beres rumah, cuci piring cuci baju, apalagi setrika! Bukannya sombong, aku mending disuruh hal lain. Benci sebenci-bencinya sama kerjaan rumah. Tapi apa yang terjadi setelah menikah.... aku coba pelan-pelan melakukan hal yang aku benci itu. Dari masak yang gampang-gampang dulu, kemudian meningkat ke hal-hal lain. Terus, aku coba hal lain yang aku benci. Stay di rumah.
Sejujur-jujurnya, aku ini suka pusing sama tampilan JIRA. Di era yang serba visual gini, emang tampilan yang kurang "sleek" bikin males nengok apalagi baca. Tapi udah terbiasa dengan scrum board di JIRA, yah gimana dong.... haha ke-BM-an ini terjawab banget sama sebuah web app. Craft.io , product management tool yang enak banget dilihat, dipakai dan fungsional. Terutama buat scope UX, fiturnya lengkap dan compact.
[caption id="" align="aligncenter" width="682"]
Tampilan Craft.io - tab "define"[/caption]
Mulai dari essential things mengenai produk yang akan kita buat sampai produk itu berkembang jadi beberapa versi, semua ada dalam board yang rapi, enak di-search, dan paling penting progress-nya ke-track dengan gamblang. Artinya, orang yang bahkan buta dengan metode Scrum bisa dengan mudah menyesuaikan.
Tampilannya sleek jadi nggak bikin jereng. Kelihatan banget di sprint board dan roadmap-nya. Kalau collab sama banyak orang jadi meminimalisir miss-communication antar member dan team.
[caption id="attachment_15623" align="aligncenter" width="1024"]
Sprint Board[/caption]
[caption id="attachment_15624" align="aligncenter" width="1024"]
Floating Roadmap[/caption]
[caption id="attachment_15625" align="aligncenter" width="1024"]
Columns Roadmap, lengkap dengan goal & stories[/caption]
Selain product summary, epic, stories dan roadmap-nya yang rapi banget di tiap board, Craft.io juga dilengkapi dengan board yang memantau product workflow. Workflow management ini bisa ditemukan di tab "build". Berisi card-card dengan tampilan yang mirip trello.
[caption id="attachment_15626" align="aligncenter" width="1024"]
Workflow Management[/caption]
Tampilannya nyaman banget, bahkan untuk edit ditiap backlog itu juga enak banget untuk. Yang paling penting, kita bisa banget sync project yang ada di tools lain (seperti JIRA dan gitHub). Ini penting banget karena aku kadang kayak males banget liat JIRA cuma gara-gara gasuka sama tampilannya hahah.
[caption id="attachment_15627" align="aligncenter" width="500"]
Story Editor[/caption]
Semoga yang butek juga sama tampilan management tool-nya bisa terbantu. Fitur-fitur selengkapnya bisa cek di craft.io atau help.craft.io
Karena kecerobohan dan kemalasan, aku kali ini kena batunya. Ternyata hostingan untuk aulley.com sudah terminated pas aku bayar perpanjangan. Merasa salah banget karena nyuekin notification e-mail nya. Tapi yasudahlah. Walaupun sedih tulisan-tulisannya ilang karena nggak nge-back up sebelumnya (yak, too clumsy). Mungkin ini saatnya untuk mulai rajin dan berkomintmen untuk menulis. Minimal 1 minggu 1 post. Keliatan gampang ya, tapi komitmen pada diri sendiri itu... susah. Kenapa diera video aku lebih suka nulis? Karena menurutku sharing dengan cara menulis itu semacam stress therapy. Aku pernah mencoba buat bikin vlog untuk Abimon. Tapi kok bukannya seneng malah stress ya. Karena di depan kamera kita pengennya kelihatan "perfect"... ya muka, ya baju, ya tempat shooting, belum lagi ngeditnya juga harus kelihatan perfect, bahkan kalau pas di-edit dan ada yang kurang malah bingung sendiri. Saat menulis, aku justru menemukan kesederhanaan. Dimana hanya ada kita dan keyboard. Mau tampilan kita lagi acakadut, tapi kita bisa tetep share our thoughts melalui tulisan. Sesederhana itu dan keuntungan lainnya, mengurangi stress deh yang aku rasakan. I'm starting over again!