Bekal Buat Jadi UX Writer

Memulai Data Driven Design

Setelah beberapa waktu lalu bikin artikel tentang data driven content yang kaitannya dengan kerjaan UX writer, kali ini bahas sedikit tentang Data Driven Design yuk!

Sebenernya data driven design ini nggak jauh-jauh dari proses Emphatize di design thinking dan Problem-Solution Fit di product thinking. Syarat utama data driven design apa dong? Jelas, adanya data sebelum kita mulai melakukan problem - solution fit hingga akhirnya tercipta design sebagai solusi yang meaningful untuk user, meaningful untuk stakeholder, dan tentu saja meaningful untuk designer-nya.

Design udah inovatif banget nih, tapi kok conversion jelek? Kok user gak retain?

Pernah liat gambar di atas? Seringkali, designer dan stakeholder udah bias dengan user needs. Designer bukanlah user. Begitu juga dengan stakeholder. Seringkali, kita sebagai designer ini udah terlalu familiar sama produk bikinan kita sendiri. Menariknya, user pun tuh sebenernya juga nggak tau apa yang sebenernya mereka butuhkan. Terus gimana dong? Untuk menjawab user needs, dibutuhkanlah data driven design.

Data driven design mewajibkan kita untuk melakukan riset. Kenapa? Penting banget untuk membuktikan asumsi-asumsi designer melalui riset. Apa yang kita asumsikan, tidak selalu sesuai dengan kondisi dan pemikiran user. Apa yang sedang jadi UX trend, tidak selalu bisa masuk kedalam behaviour user. Dengan riset, seorang designer akan lebih mengenal siapa usernya.

Design material, design trend atau design-design yang ramai diomongin di forum designer, belum tentu bisa bikin user kita convert. Belum tentu bisa bikin mereka melakukan apa yang kita (sebagai designer) inginkan.

UX research, ada banyak banget metodenya, referensinya juga udah banyak. Setiap data yang didapat dari riset pasti bisa menghasilkan sesuatu yang meng-improve design kita.

Wah, Company-ku Nggak Mendukung Buat Riset Nih.. Gimana Dong?

Banyak designer yang curhat kalau company mereka susah banget approve buat melakukan UX research. Tips paling awal buat menyakinkan company atau stakeholder adalah dengan menyajikan data dan membuat improvement melalui data tersebut. Ketika kita udah bisa nunjukin "hasil" dari sebuah riset pasti jalan kedepannya lebih gampang.

Cari data yang bisa kita gali tanpa keluar biaya. Contohnya;

Pantau aktivitas user melalui aplikasi tracker

Kalau produk kamu sudah memiliki aplikasi tracker semacam Google Analytics atau Mixpanel kamu wajib banget untuk memiliki akses. Sebagai designer, hal ini memudahkan kamu ngetrack apa yang user lakukan dan sebagi designer bisa langsung melakukan improvement dari situ. Contohnya yang pernah aku lakukan, ternyata page yang paling sering diakses userku adalah Home dan History. Tapi akses ke History harus melalui 2 tahap tambahan. Nah dari sini, aku bisa melakukan improvement dengan mempermudah akses ke History. Yaitu dengan menambahkan icon History di bottom navigation. Setelah perubahan tersebut, kamu bisa menyajikan data sebelum dan sesudah ada perubahan.

Funnel di Google Analytics Memudahkan Kita Menganalisa Behaviour dan Drop Off

Contoh lagi, waktu itu pernah bikin fitur baru Collection. Hanya berbentuk icon saja. Jelas banget yang convert ke page collection kecil banget. Untuk tahap pertama, aku coba ganti icon dengan icon + wording "collection". Hasilnya jauh lebih banyak yang akses halaman tersebut, tapi masih kurang maksimal karena user hanya mengunjungi tapi tidak melakukan action yang aku inginkan. Nah, dari situ aku bisa bikin improvement lagi. Jadi, di empty-state bisa langsung dikasih wording penjelasan dan CTA create collection. Hasilnya user pun mau untuk membuat collection.

Data Driven Design Framework

Research plannjng sangat penting, karena bisa mempermudah kamu dalam eksekusi dan tentu aja saat mengajukan ke stakeholder. Berikut framework yang bisa kamu coba.

Framework outlined by King et al.

Goal & Problem

Tentukan dulu goalnya. Misalnya nih, goalnya pengen meningkatkan activation e-commerce. Setelah itu, dari data yang udah kamu punya (misalnya tracker kayak di-poin sebelumnya), kamu bisa define problem yang jadi blocker buat achieve goal tuh apa. Atau bisa propose untuk melakukan survey terlebih dulu jika nggak ada data yang bisa kamu ambil. Contoh problemnya, ternyata data dari tracker menunjukkan kalau user tidak melakukan action pembelian. Hanya discover aplikasi / web e-commerce kamu. Nah kalau aku biasanya bikin coret-coretan seperti gambar diatas buat mempermudah pointing problemnya.

Hipotesis

Setelah tahu kalau ternyata problemnya user hanya "muter-muter" aja di web, kamu bisa menarik hipotesis. Hipotesis bukan cuma kayak "kalau flownya diganti A user bakal lebih tertarik untuk melakukan action", not that simple ferguso...

Hipotesis ada metricsnya lho! Apa itu? Hipotesis harus menjawab hal-hal ini:

  • Siapa saja kelompok user yang akan di evaluasi (user group)
  • Apa saja improvement yang akan dibuat (change)
  • Efek atau hasilnya akan seperti apa (effect)
  • Mengapa efek / hasil tersebut akan terjadi (rationale)
  • Apa measurable result yang akan didapat (measure)

Atau, King et al. merumuskannya jadi satu kalimat;

For [user group(s)], if [change] then [effect] because [rationale], which will impact [measure].

Contoh hipotesisnya disini, "Untuk milenial (user group), jika kita membuat fitur blog (change) di e-commerce maka akan membuat mereka tertarik membeli produk setelah membaca artikel tentang produk (effect)tersebut karena mereka dapat menemukan value produk tersebut dan lebih yakin untuk membeli (rationale), sehingga dapat meningkatkan activation rate (measure)".

Test

Test ini bisa dibilang "experiment". Sebelum melangkah ke design sebenernya, lebih baik melakukan eksperimen untuk tahu apakah hipotesis kita tuh bener. Contohnya bisa dengan A/B testing. Atau kalau aku juga pernah bikin fitur percobaan yang low effort. Aku juga pernah melakukan experiment hanya lewat in app message saja untuk "cek ombak".

Contoh untuk study case sebelumnya, kita bisa bikin 1 artikel yang mencakup beberapa produk dan user bisa melakukan pembelian produk-produk di artikel tersebut.

Test tersebut dapat kita atur waktu, sampai kapan kita mau jalanin dan seberapa jauh. Test atau experiment juga dapat kita lakukan untuk kelompok user tertentu aja yang kita jadikan sample "percobaan".

Result

Result dari test atau experiment dapat membuktikan hipotesis kita bener atau salah nih. Result ini pula yang akan nge-drive seluruh design yang akan kita buat untuk mencapai goal di awal tadi.

Misalnya, dengan adanya artikel mengenai produk-produk tertentu, ternyata bikin add to cart rate meningkat bahkan success payment pun meningkat dengan angka yang signifikan. Artinya hipotesisnya benernya. Maka kita sebagai designer bisa membuat design blog lengkap dengan shortcut untuk add to cart.

Coba mulai dari hal-hal diatas untuk terbiasa dengan data driven design. Mulai dari hal yang mudah dulu, seperti pasang tracker di semua action. Pasti bakal lebih mudah buat kita tahu seberapa efektif design yang kita buat. Dan plusnya, kalau ada problem atau metrics ada yang turun, kita bisa lebih cepet tahu alasannya. Good luck sobat UX dan product kuh!

Apa yang Paling Dibutuhkan UX Designer? Product Thinking!

Belakangan ini, aku lagi banyak membaca buku-buku yang berkaitan dengan product. Entah product management, how to build a product, dan tema lainnya seputar product. Dan sampailah pada kesimpulan.

Product thinking harusnya di emphasize di ranah UX. Aku merasa product thinking adalah modal utama bagi ux designer untuk menciptakan sesuatu yang solving user's problems. Tanpa product thinking dan hanya mengandalkan design thinking aja, aku merasa mustahil menciptakan sesuatu yang "meet the user needs and goals".

Specific Problems

Kalau bicara soal UX Design, beberapa orang kebayang soal gimana sih cara menciptakan produk yang secara tampilan "beautiful" tapi berguna buat user dan membuat user nyaman untuk terus menggunakan produk itu. Put user first, teorinya. Product thinking mengcover hal-hal dari sisi UX tersebut, tapi juga beyond that ux term.

Product thinking mengharuskan kita untuk lebih peduli pada masalah-masalah spesifik yang dihadapai user, apa yang user ingin selesaikan saat menggunakan produk kita (jobs to be done), user goals, dan tentu saja dari segi bisnis; revenue. Product thinking mengharuskan kita melihat sesuatu lebih spesifik dan berbagai sisi.

Ketika kita membuat suatu produk, harapannya pasti dapat digunakan oleh target user kita dan produk kita dapat menyelesaikan masalah mereka. Nah, baru bisa disebut produk yang punya value. Tapi, ketika solusi yang kita tawarkan tidak menyelesaikan masalah user, produk kita tidak mereka gunakan, apa sih artinya? Artinya masalah itu sebenernya nggak exist. Bisa jadi "user problem" tersebut hanya ada dalam pikiran kita sebagai designer.

It's not the customer's job to know what they want

Steve Jobs

Buat apa menghabiskan waktu dan uang buat bikin produk yang nggak dipengenin user sih? Solusi yang salah masih bisa kita ubah, tapi kalau emang "user problem"-nya nggak exist? Product yang kita buat akan meaningless.

Awal kemunculan Grab, apakah sudah memberi solusi?

Contoh; ketika Grab masuk ke Jakarta. Menawarkan solusi buat user yang repot nyari taksi pas jam2 macet. Masalah ini ternyata emang bener dialami user di Jakarta. Artinya the proble is exist. Tapi solusi yang ditawarkan ternyata belum benar. Karena di Jakarta kalau macet bukan cuma susah nyari taksi, tapi jalan juga nggak gerak kalau pake mobil, makanya butuh yang gampang dicari tapi juga cepet sampe ketujuan. Nah, jadi bertambah nih solusi yang ditawarin Grab, yaitu dengan Grab bike. Dari segi bisnis-pun, grab bike bisa dibilang lebih efisien dan mendatangkan revenue yang lebih daripada harus kerjasama dengan armada taksi.

Life before Spotify

Sebelum ada Spotify pun, kita nyaman-nyaman aja dengerin via CD, beli musik di iTunes, youtube atau bahkan download ilegal hehe. It's not the customer's job to know what they want. Spotify kemudian memberikan solusi atas hal yang "user inginkan", bisa dengerin musik tanpa repot tapi juga legal. Sebelum Spotify, kita nggak kepikiran atau sampe demo minta dibikinin music streaming app kan?

Dengan rajin mengamati apa yang terjadi pada manusia, kita sebagai designerpun akan lebih peka terhadap masalah yang terjadi. Terkadang kalau udah terjun dalam industri ini, seorang UX Designer bisa jadi terlalu fokus dengan fitur baru. Tapi lupa dengan produknya sendiri. Remember, features don’t work without the product.

Product Thinking Framework

Framework ini aku temukan disalah satu artikel di Medium. Sebelum membuat suatu fitur atau suatu produk, aku membiasakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini terlebih dahulu.

Source: Medium
https://medium.com/@jaf_designer/why-product-thinking-is-the-next-big-thing-in-ux-design-ee7de959f3fe

Kalau kita udah bisa mendefinisikan Problem-Solution Fit dari fitur dan product yang kita buat, artinya product tersebut sudah memiliki core value dan bisa jadi product yang meaningful. Meaningful untuk user, meaningful untuk stakeholder, dan tentu saja meaningful untuk designer-nya.

Selain framework diatas, untuk memperkuat Problem-Solution Fit, seorang UX designer juga bisa menjawab pertanyaan ini. Pertanyaan ini juga bisa membantu designer saat bernegosiasi dengan stakeholder. Jika semua sudah terjawab, maka produk atau fitur yang akan didevelop memang layak untuk didevelop.

Source: Medium
https://medium.com/@jaf_designer/why-product-thinking-is-the-next-big-thing-in-ux-design-ee7de959f3fe

Self Talk and Positive Words

Pernah nggak sih ngerasa semua hal nggak berjalan sebagaimana mestinya? Rasanya kayak pengen pergi jauh aja. Stress yang numpuk, kerjaan yang nggak jelas junturungannya, dan yang akhirnya bisa aku simpulin. Too much negative words yang diberikan beberapa orang.

Cuma kata. Tapi ternyata bisa membuat orang begitu down. Makanya nggak heran ada yang bisa sampai suicide karena di-bully. Words matter. 

The Power of Self Talk

Pernah gak sih ngomong sama diri sendiri? Entah cuma dalam hati doang atau literally ngomong gitu? That's what we called 'self talk'. Situasi dimana kamu ngomong sama diri sendiri. Entah positif atau negatif, atau keduanya.

Untuk beberapa orang, self talk nya malah lebih condong ke arah negative. Misalnya "wah gue gak bakal bisa nih dapet kerjaan ini" atau "wah kayaknya doi udah out of my league deh". Pernah kan? Negative self talk sebenernya sangat wajar, natural banget.

Tapi kalau kebanyakan negative self talk dan didukung lingkungan yang kasih negative words juga? Dijamin, hal negative yang cuma jadi pikiran itu malah kejadian. You are what you think.

Rasanya kayak kalah sebelum bertanding. Belum melakukan apa-apa udah depresi. Overthinking? Sort of. Dan parahnya ketika udah tau overthinking, kamu tetap diberikan sugesti negative. Gimana negative things nggak happen coba?

Coba dibalikin kalau itu semua casenya jadi positive things. Bayangkan berapa hal positive yang bisa kita lakukan. Bayangkan kalau self talk kita positif semua. Nggak mungkin kan masih depresi.

Jadi setelah menenangkan diri, ada beberapa hal yang kini aku lakukan untuk melawan hal-hal negative itu.

Stop Making An Assumption

Kalau aku amati, negative self talk bisa jadi terjadi karena asumsi yang kita buat sendiri. Kalau dalam Islam bisa disebut suudzon gitu... Makanya lebih baik melakukan konfirmasi. Walaupun beberapa kali aku ngerasa kayak, "ah masa gitu doang nanya" atau "dari gesture dan nada suara pasti begini nih maksudnya" atau asumsi-asumsi lain. Tapi mulai sekarang lagi mencoba nih buat mengurangi asumsi-asumsi negative. Mending straight forward nanya aja dan bilang apa yang kita inginkan.

Challenge Your Negative Self Talk

Nah ini juga lagi sering aku lakukan. Ternyata hal ini termasuk cognitive behavioral theraphy lho! Ketika ada pikiran negatif yang kalian omongkan ke diri sendiri, langsung challenge pikiran negative itu dengan hal yang lebih positif.

Contohnya, pas interview kerja. Mikir "wadaw jangan-jangan aku nggak bisa ketrima kerja nih, saingannya susah, pengalamanku cuma gini doang". Nah self talk macem gitu bisa di-challenge dengan "kalau valueku rendah gak mungkin dong aku bisa sampai dipanggil interview, pasti aku udah meet criteria".

Dengan men-challenge pikiran negative, kita jadi lebih semangat buat melakukan sesuatu. Lebih pede juga dalam bertindak. Tapi jangan sampai over pede. Sesuaikan dengan kondisi juga.

Just Be Kind To Yourself

Nggak ada lagi yang bisa super kind sama diri kita selain kita sendiri. Kalau kita aja udah "gak baik" sama diri sendiri, gimana bisa berharap orang lain bakal "baik" ke kita?

Saat kita underpressure, apapun yang kita pikirkan akan ngaruh banget sama apa yang akan kita lakukan. Jadi jangan gegabah untuk mengatakan dan melakukan sesuatu. Ubah pikiran kita jadi positif dulu sebelum bertindak. Kalau kamu bisa ngomong baik-baik sama temen deket, kenapa sama diri sendiri nggak?

Anggap dirimu adalah sahabat paling berharga dan mulai nasehati diri sendiri dengan hal-hal positif. Selalu challenge negative self talk yang ada dalam pikiranmu. Dengan latihan terus menerus, lama-lama akan terbiasa dengan positive self talk dan bakal ngaruh juga ketindakan kita.

Buang jauh-jauh deh setiap kalimat negatif yang diomongin orang lain, just be kind to yourself!

Data Driven Content

Term UX Writing sekarang semakin sering terdengar ya. Tapi kok dalam beberapa kasus, aku merasa term ini masih mirip sama yang dilakukan copywriter ya? Hmm, padahal jelas berbeda. Tapi UX Writer yang punya skill copywriting jelas oke banget sih.

Lalu bedanya apa? Kalau simplenya sih, aku sendiri beranggapan kalau copywriting berkaitan dengan commercial. Sementara content yang dibuat oleh di UX writing adalah data driven content.

Jadi penting banget buat seorang UX Writer untuk bisa membaca data, paham dengan flow productnya dan tahu persona untuk product yang dia bangun. Kalau aspek-aspek itu belum bisa dimengerti, rasanya content yang dibikin belum bisa dikatakan sebagai UX Writing ya. Karena UX writing menurutku harus fokus ke user. Lah, kalau nggak ngerti siapa usernya dan behaviour usernya, gimana mau bikin copy message atau content yang valuable?

Content Strategy

Tetep dong, data driven content harus tetep ada content strategy nya. Content strategy ini meliputi brand voice dan UX Writing Principles.

UX Writing Principles terdiri dari 3; Clear, Concise, dan Useful. Clear maksudnya, message yang ditulis nggak berbelit-belit. Misalnya error, error-nya kenapa dan kamu harus ngapain agar error itu tidak terjadi. Concise bisa dibilang content atau message yang efisien. Kalau nggak perlu title ya udah nggak usah pake title yang hanya bikin kalimat penjelasnya jadi berulang-ulang. Useful sering kita lihat pada message di CTA. Message di CTA seharusnya memberikan arahan yang jelas untuk user, apa yang akan mereka lakukan jika memilih CTA tersebut atau direct to the next action. Untuk lebih lengkapnya tentang content strategy bakal aku bahas next aja ya...

Research

Nggak  cuma masalah isi atau pesan yang ingin disampaikan. Sebelum dan setelah membuat content, seorang UX writer wajib banget banget melakukan research. Researchnya macem-macem nih, sesuai dengan kebutuhan dan apa yang belum ada di product development. Misalnya, user persona, user interview, a/b testing dan research lainnya. Semua copy message atau content dalam suatu produk harus jadi valuable conversion. Setelah product digunakan user, seorang UX writer juga harus banget melakukan post-research apakah pesan yang disampaikan itu bisa meningkatkan conversion. Berikut contoh yang bisa kita ambil;

Google bisa meningkatkan engagement rate hingga 17% dengan mengganti copy "Book a Room" dengan "Check Availability"
Veeam meningkatkan conversion rate hingga 166.66% dengan mengganti copy "Request a Quote" dengan "Request Pricing"

Problem, Approach, Solution

Kalau ngelihat dari 2 contoh tadi, sebenernya solusi apa sih yang ditawarkan UX writer agar conversionnya meningkat? Yup, menawarkan user sebuah "variasi" atau kebebasan, nggak intimidating atau mengikat saat "menyuruh" user melakukan suatu action.

Framework yang menurutku simple dan bisa banget digunakan untuk UX writer adalah Problem, Approach dan Solution. Lewat research, seorang UX writer bisa menemukan "problem", kemudian gimana sih cari dapet solution dr problem tersebut? Nah, gunakan approach baik dari sisi user journey, success metrics, user persona dan yang lainnya. Kemudian baru deh bisa menemukan solution-nya. 

Makanya sekarang banyak denger istilah "content first design" karena content memegang peranan penting banget di sisi UX. 

Kalau content yang kamu tulis diproduk kamu masih belum ada valuable conversionnya, pantaskah itu disebut sebagai UX Writing?

Aku juga ingin memulai karir sebagai UX Designer! Eh, gimana caranya?

Sebagai seseorang yang sama sekali tidak memiliki background pendidikan IT, banyak pertanyaan yang menghampiri aku soal gimana caranya bisa sampai berkarir di IT industry dengan role yang sebenernya nggak semua orang bisa.

Memulai dengan iseng-iseng menjadi front-end.. Hah? iseng? Bukannya gimana-gimana, ngoding adalah sesuatu yang super iseng aku coba. Susah lah awalnya, aku cuma anak lulusan SMA Negeri, kuliah pun jurusan komunikasi. Dan yang pasti kalau ditanya gimana caranya bisa nge-convert design jadi HTML code lengkap dengan CSS dan JSnya, aku juga nggak bisa jawab detail hahaaha. Karena sepengalamanku, aku cuma punya semangat belajar dan logika aja. Karena coding itu bagiku cuma menyederhanakan logika dalam pikiran manusia dalam bentuk code aja. Source pun udah banyak, tinggal nyontek atau oprek kiri kanan, nanya-nanya pun gampang. Jadi ya kuncinya adalah belajar yang giat dan jangan nyerah sampai ketemu solusinya.

Nggak jarang lho aku disepelekan karena cewek dan bukan lulusan IT. Tapi yaudah deh, kalau udah liat hasil kerjanya pasti tau sendiri. Se-simple itu. Disepelekan juga membuat semangat belajarku makin meningkat. Semakin giat belajar di field front-end, ternyata makin kesini dunia front-end juga shift ke UI & UX Designer. Aku mulai mencari tau dong apa itu UI dan UX. Sekitar 5 tahun lalu masih awam banget dan jarang role ini dicari atau mungkin dijadiin satu role dan basicly kerjaannya pada waktu itu adalah tukang design website hehehe.

Kebetulan, dunia front-end membuat ku secara nggak langsung terbiasa menghadapi design, terbiasa meng-analisis hal-hal yang efektif, terbiasa nyela hasil kerja designer yang nggak ngerti how to code hahaha (pada jaman itu banyak kasus kayak gitu), dan taste design pun makin terbangun. Berbekal pengalaman design-in poster dan undangan semasa SMA dan kuliah, aku mulai incip-incip dunia per-design-an.

Dan kebetulan lagi, client-ku ada yang hobi ngasih project design + development, karena aku rakus dan matre jadi ya sering ku kerjain sendiri hahahahhaa. Dari situ mulai ngumpulin portofolio design. Sambil belajar-belajar teori tentang UX. Sampai pada akhirnya aku apply-apply job di startup untuk posisi UX Designer. Dan keterima!

Nah setelah udah lebih dari 3 tahun berkecimpung di dunia per-UX-an, aku sering banget dapet pertanyaan, gimana caranya jadi UI atau UX Designer. Atau gimana sih shift dari role programmer atau design guy jadi UX guy?

Sebenernya jawabnya udah ada dicerita di atas... akan ku jelasin per-poin ya.

1.Redesign and Tweaking

Ngumpulin portfolio sebenernya susah-susah gampang. Kalau kamu seorang programmer atau front-end, kamu mau nggak mau harus bikin case study mu sendiri. Cara paling gampang yang aku lakukan adalah tweak design yang udah ada. Misalnya aku ngerjain front-end untuk aplikasi A, nah aku tau nih apa kurang-kurangnya,seperti flow yang menurutku lebih baik dan posisi-posisi elemen yang lebih baik. Dari situ aku coba tweak versiku dan menjelaskan di portfolio bahwa itu adalah project tweaking atau redesign. Sedangkan untuk kamu yang berasal dari graphic design, caranya juga hampir sama. Coba redesign apa yang sudah ada, dan pertanyakan ke diri sendiri mengenai fungsi masing-masing elemen dan kenapa kamu letakkan di posisi tersebut. Nah kalau gatau silahkan googling, ini itung-itung sekalian belajar.

2. Showcase your work

Jaman dulu aku sering bikin freebie, sayangnya blogku itu kehapus hahahaha... freebie yang aku kasih biasanya coding-an yang front-end related atau free web template. Kasih link email kamu untuk yang pengen dapet freebie-nya, ini bagus banget untuk ngeliat respon orang atas kerjaan kamu. Tapi harus rajin ya! minimal sebulan sekali lah bikin freebie..

3. Belajar dan Banyak Baca

UX field sebenernya butuh banget dipelajari. Makanya, harus bener-bener mempertajam sense dengan banyak baca buku dan belajar. Aku suka download epub version dari buku-buku UX yang terkenal atau sekedar baca artikel di Medium. Pokoknya terus baca dan jangan bosan.

4. Cari Mentor

Nah ini penting banget! Kalau mau shift, cari paling cepet tuh harus cari orang yang bisa ngajarin kamu. Kalau aku suka discuss sama orang di UX field, ya tanya-tanya aja.. pastikan emang orangnya nggak ngerasa terganggu ya heheh tapi cara ini emang bikin cepet ngerti UX proccess lho. Dan jujur aja ngomong kalau kamu emang mau shifting.

5. Pelajari Analytics

UX designer harus banget bisa baca data, jadi ini modal penting banget saat wawancara kerja. Jadi sempat-sempatin untuk lebih banyak meluangkan waktu belajar membaca data. Kalau aku lebih cepat di proses ini karena skripsiku dulu juga tentang big data dan aku juga ngerjain sosmed berbagai selebriti, mau nggak mau harus banget baca data.

6. Story in your CV & Portfolio

Kalau sebelumnya kamu bukan UI atau UX Designer, kamu harus punya "story" di setiap role yang kamu pegang sebelumnya dan hubungkan dengan UI atau UX field. Misalnya untuk front-end, kamu bisa jelaskan kalau kamu terbiasa membuat user flow dengan UI designer atau membuat wireframe juga. Tambahkan juga story di setiap portfolio kamu, kalau bisa kamu juga memberikan portfolio yang ada case studynya. Bahkan app bikinan kamu sendiri juga bisa jadi portfolio kok asal proses yang kamu lakukan bener. Bahkan jelasin kalau kamu good at google analytics or any other analytic tools juga bisa jadi nilai plus buat kamu. Di portfolio ini lah taste kamu bisa kebaca. Karena at the end of the day, taste juga penting banget buat seorang designer selain semua pengetahuan dasarnya.

Semoga tips diatas membantu dan makin banyak yang berminat untuk take the role as UI or UX designer. Semua itu bisa dipelajari kok asal kita mau, dan jangan cepet puas untuk menggali ilmu lebih dalem lagi karena perubahan teknologi itu cepet banget. Have a nice day!

Kembali ke Kantor dan Ninggalin Anak, Gimana Rasanya?

Setelah hampir setahun memutuskan untuk jadi mompreneur, bekerja dari rumah, mengambil job-job receh hanya untuk sekedar supaya kemampuan dan kreativitas nggak tumpul, ambil freelance yang bisa monthly... Akhirnya aku membuat suatu keputusan besar. Kembali ke kantor! Lebih cepat dari targetku. Awalnya berencana kembali mengumpulkan pengalaman kerja setelah Abi menginjak usia 2 tahun. Ternyata Tuhan berkendak lain, ada tawaran yang lumayan bagus. So, why not?

Pertimbanganku adalah... Abi usianya udah gede (17 bulan saat aku mulai ngantor), lokasi kantornya deket dengan daycare, dan memang sebelumnya aku sudah berencana nyekolahin Abi karena udah bingung sendiri ngajarin dia apa. Jadi pas banget. Ya walaupun masih ada keraguan, Abi bisa nggak sih ditinggal sendiri? Makannya gimana ya? dan macem-macem keraguan lainnya tapi tarafnya masih belum mengkhawatirkan. Jadi aku mantap untuk kembali ke kantor.

Sebelum ngantor, aku punya waktu sebulan untuk membiasakan Abi ditinggal pas siang - sore. Aku mulai dengan ngajarin dia minum sufor, sebelumnya UHT dia udah dari setahun sih tapi aku mau coba sufor untuk siangnya aja, sementara pagi - malam tetep ASI. Eh ternyata susah juga, doi gak mau lho! Butuh waktu 3 minggu untuk akhirnya menyukai rasa sufor-nya. HUFF.

Yang kedua, ngajarin bobo siang tanpa nenen. Susah setengah mati, tapi berhasil lebih cepat. Mungkin sekitar 3 harian udah bisa bobo sendiri. Anak hebat!

Yang ketiga yang paling susah, meninggalkan Abi di daycare. Pas trial sih dia seneng-seneng aja karena banyak teman dan mainan yang macem-macem. Pas beneran ditinggal... eh dijemput nangis-nangis huhuhu. Cuman emang katanya sih butuh proses adaptasi. Malah ada yang sampe sebulan adaptasinya. Waduuu! udah deg-deg ser. Gimana kalau Abi bersikeras gamau ditinggalin di daycare???

Tapi bukan Aulia kalau mudah menyerah! hahaha... Abi pun terus tiap hari ke daycare walaupun nangis-nangis gitu. Sampailah di hari ke 3 dia udah gak nangis-nangis.. cuman jadi manja dan lebih diem aja. Sempet mikir aneh-aneh, jangan-jangan dia jadi gila ditinggalin!! Tapi ternyata setelah seminggu dia udah balik ke Abi yang semula. Alhamdulillah. Dan sekarang udah 3 minggu di daycare. dia udah happy tiap dianter jemput. Malah banyak sisi positifnya sejak di daycare lho! akan aku bahas terpisah deh sisi positifnya.

Sekarang udah tenang, kerja pun tenang, anak bahagia bisa main sama temen-teman seusianya, diajarin macem-macem termasuk potty training hehehe. Rasanya hidup lebih balance aja, berkarya sekaligus jadi Ibu. Pikiran lebih positif. Karena percayalah.. di rumah jagain anak itu melelahkan. Freelance + jagain bayi ternyata tidak semudah itu. Lebih melelahkan daripada kerja kantoran! Makanya nggak heran kalau ibu-ibu itu lebih sensi. Capek banget sis!

Kenapa Memilih Kembali Ngantor?

Orang ngeliat jadi entrepreneur itu enak. ya diliatnya sih enak.. ngejalaninnya?? mati-matian! Waktu tidur jelas berkurang, anak rewel malah keteteran kerjaannya, belom lagi drama invoice gak cair-cair. Kalau secara nilai, nggak jauh beda sama salary di kantor sih.

Selain itu, suamiku juga wiraswasta. Jadi kalau dua-duanya invoice pada gak cair.. ya bayangin aja! Gabisa makan nih bisa-bisa. Dan itu pernah terjadi hahaha untung masih bisa nambelin kaaan... Ya saat ini emang ngantor jalan yang terbaik buat aku. Selain bisa nabung sendiri, juga bisa buat nambal kalau ada apa-apa ya kaan...

Masalah yang lainnya adalah emang aku merasa kemampuanku belum cukup. Aku masih pengen mengasah kemampuanku. Masih pengen tau lebih dalam tentang product development. Masih banyak yang perlu aku gali. Termasuk mengembangkan personality supaya bener-bener bisa jadi wanita panutan (apasih bahasanya...) nantinya. Pokoknya aku haus ilmu dan masih pengen belajar. Sementara kuliah UX yang aku rencanakan tuh di Inggris. Lebih susah ngeboyong Abi ke Inggris kan hahaha

Bagiku, walaupun dikata ngikut orang.. nggak mandiri.. jadi karyawan.. eh tapi, selama ini ilmu yang aku dapat justru banyak banget. Berbeda-beda bos, berbeda culture dan pengetahuan yang beragam. Nggak sekedar gaji. Tapi dibalik itu, kerja kantoran mengajarkan aku kedisiplinan, etos kerja yang baik, teamwork, empathy dan menghargai orang lain. Jadi UX Designer belum ada sekolahnya di Indonesia. Mau gak mau aku harus learning by doing dengan benar-benar mengembangkan produk. Sedangkan dengan jadi freelance, sepengalamanku malah membuat ilmuku ya cuma itu-itu aja. Bahkan ada titik dimana aku merasa cuma jadi buruh, nggak involve dan gada hal baru yang bisa aku pelajari. Sedangkan mimpiku itu banyak. Kalau gak belajar apa-apa gimana cara wujud-in nya??

Buat ibu-ibu diluar sana.. jangan pernah menyerah dengan mimpi kamu. Mau jadi ibu rumah tangga atau berkarir itu pilihan dan tanggung jawab masing-masing. Yang jelas jangan pernah meninggalkan mimpi. Terus dikejar bahkan bersama anak dan suami kita. Sama-sama mengejar mimpi itu. Kita gatau dong kedepannya gimana? Jadi terus berusahalah, ambil yang positif, jangan dengerin yang negatif :)

Financial Tips Bagi yang Sulit Menabung

Susah banget mau nabung.. udah bertekad kuat, eh baru dikit udah kepake ini itu. Atau ada aja excuse untuk nggak saving. Itu sebenernya yang aku alamin. Mungkin emang ada orang yang giat menabung, dan ada juga yang tipe susah menabung. Mau boros, mau hemat.. tetap susah nabung. Mau lagi banyak duit, mau seret, tetep susah nabung. Ada yang seperti aku juga?

Pas masih bujang sih belum kerasa ya. Tapi setelah berkeluarga, aku sadar kalau mengatur finansial itu sangat penting! Ada anak yang harus dibesarin, ada tagihan-tagihan yang harus dibayar, ada rumah yang harus diurus, ada liburan keluarga yang diimpikan, dan tentu aja kebutuhan sehari-hari. Pusing gak tuh... Atau pengen punya rumah, mobil, jalan-jalan keluar negeri, tas bagus, gadget baru.. tapi gimana caranya, orang susah nabung gini..

Beberapa hal ini aku terapkan baru-baru ini.. Baru-baru ini lho ya.. haha karena ini yang lumayan efektif.. Semoga bisa membantu!

1.Kalau Sulit Menabung, Jangan Berhutang

Dikit-dikit gesek CC, beli makan pun pake CC, semua yang bisa dikredit dibeli, atau ngutang temen kiri kanan. Kalau punya kebiasaan ini segera dihentikan. Hentikan pakai CC. Bayar utang ke temen. Pokoknya kalau udah tau kita sulit nabung, maka jangan sampai numpuk hutang dan bunga-bunganya. Karena dengan berhutang itu artinya, pendapatan kita perbulan akan berkurang buat membayar hutang tersebut. Kemudahan hutang itu semu. Pokoknya selalu aku camkan sama diri sendiri kalau utang, bulan depan aku gak bakal bisa jajan. Jadi mending gausah utang. Terus kalau mau punya ini itu gimana caranya? Apalagi kayak rumah atau mobil kan gedee banget, gak mungkin gak hutang. Akan aku bahas di poin selanjutnya.

2. Pikirkan, Dimana Pengeluaran Terbesar

Coba deh sekarang renungkan, sebenernya pengeluaran terbesarmu dimana? Pasti tau kok jawabannya. Kalau aku di makanan. walaupun kayak cuman beberapa puluh ribu sekali makan, eh coba deh itung tiap bulannya. Lumayan gede ternyata. Mungkin ada juga yang abis buat beli baju atau malah beli mainan.. atau malah beli kopi tiap hari?? Setelah tau pengeluaran besar dimana, aku mulai ngurangin di sektor itu. Jadi untuk makan, aku lebih berhemat dengan rajin masak sendiri, nggak beli minuman di luar dan makan fancy cukup seminggu sekali, maunya sih sebulan sekali aja tapi kok kasian amat yaa.. hehehe. Pokoknya harus bener-bener dihemat. Kadang sektor terbesar ini nggak ketara tapi bisa gede banget. Dan aku yakin pasti bisa dihemat. Tekan nafsu aja pokoknya. Atau kamu juga bisa pakai metode meal preparation buat menghemat makan. Next bakal aku share soal ini di post yang lain.

3. Set Your Goal

Nah ini salah satu yang paling efektif dan juga jawaban dari pertanyaan di poin 1 tadi. Aku selalu set goal-ku apa, sekecil apapun . Misalnya bulan ini ada sepatu yang pengen banget aku beli. Jadi aku berhemat di sektor lain untuk sepatu itu. Atau 3 bulan lagi mau liburan, jadi tiap bulan aku emang harus nabung kalau beneran mau berangkat. Kalaupun nggak bisa nabung, bulan 1 aku beli tiket, bulan 2 booking hotel dan bulan 3 buat jajan pas liburan. Atau goal yang lumayan gede misalnya DP mobil 60 juta. Aku set aja target harus kumpulin uang 60 juta dalam berapa bulan (tergantung pendapatan ya, dan harus masuk akal juga ngumpulinnya). Misalnya dalam 6 bulan harus ada 60 juta. Jadi tiap bulan aku "setor" ke ATM 10 juta, pura-puranya itu cicilan. Setelah kekumpul baru aku bayarin. Hal ini juga meminimalisir hutang. Walaupun kelihatan kecil, harus selalu aku set goal-nya. Contoh kecilnya, bulan lalu pengen beli rak buku harganya sejuta. Diawal gajian aku sisihkan uang 500 ribu, lalu di akhir aku dapet sisa dari menghemat makan. Dapet deh rak bukunya. Pokoknya harus diatur gimana caranya supaya dapet tanpa ngutang dan gak nabung ketat gitu. Selain itu, set goal juga berguna daripada uang malah habis kepake buat hal lain yang kurang berguna.

4. Buat 2 - 3 ATM Terpisah

Susah nabung tapi tetep pengen nabung. That's sums up my life. Jadi sekarang aku pisahin ATMnya. ATM uang sisa-an dan ATM untuk dibelanjakan. ATM uang sisaan ini aku isi pas awal gajian, terus pas akhir bulan dari sisa uang belanja dan hore-hore dari suami dan sisa gajianku sendiri. Gak kerasa kekumpul kan. Jangan kasih title tabungan, cukup mikirnya ini uang sisaan aja.

5. Tidak Mengeluh Soal Kerjaan

Jadi working mom itu penuh keluhan. Hmm, kerja aja udah penuh ngeluh kok apalagi ditambah ngurus anak. Tapi sekarang aku mulai banyak bersyukur. Alhamdulillah kita masih bisa hasilin duit. Gimana kalau kebanyakan ngeluh malah rejekinya dicabut. Sedih kan. Padahal yang nyambung hidup ya kerja ini. Gimana kalau nganggur gada kerjaan nungguin uang dari suami? Beberapa orang curhat gini, "gabisa beli ini itu tapi gimana aku gabisa kerja" malah ada temen SMA yang galau jadi ibu rumah tangga, FB-nya dipenuhi curhatan soal keinginannya bekerja lagi. Sebenernya gak gimana-gimana, sepengalamanku, emang paling baik itu ngurus anak sendiri. Tapi kalau emang pengen bekerja, kita juga harus bangkit dan siap-siap bekerja keras. Bisa mulai bikin usaha kecil-kecilan. Asal, jangan sepelehin uang 1000-2000 dari hasil usaha. Itulah yang membuka jalan. Pokoknya kalau emang mau kerja, ya jangan ngeluh. Kalau emang mau punya pendapatan lebih ya harus kerja. Banyak kok kisah sukses ibu-ibu yang jualan online aja pendapatannya lebih gede dari suami. Asal gak ngeluh dan tetap tekun. Ini berlaku ya buat semua pekerjaan, termasuk yang udah jadi suami.

6. Sesuaikan Lifestyle dengan Pendapatan

Kadang ini yang jadi penyakit. Sekarang aku udah ful sadar. Lifestyle harus disesuaikan sama pendapatan. Jangan sampai mudah terpengaruh sama instagram deh pokoknya! Kalau tau belum mampu ya udah. Masih banyak hal essentials yang harus kita lakukan, ngejar lifestyle juga percuma pada akhirnya. Buat pertemanan? Temen yang baik gak bakal ninggalin kamu walaupun you can't afford that Balenciaga. Ngejar feeds instagram? Yang ngeliat juga itu-itu aja, sebulan dua bulan orang juga udah lupa. So, calm and stick to your plan aja. Jangan cari penyakit dengan ngejar lifestyle yang melampaui pendapatan kamu.

7. Nekat

Hal esensial seperti rumah, kadang jadi pikiran late 20-an gini. Gimana caranya bisa beli rumah ya. Atau mobil. Pokoknya yang harganya butuh nabung bertaun-taun gitu lah. Kalau caraku sih nekat! Kalau gak nekat ya gak bakal punya. Jadikan DP nya sebagai goals kamu. Lalu cicilan perbulannya harus dipikir mateng-mateng apa cukup dengan pendapatan kamu. Atau.... cari penghasilan tambahan khusus buat nutup cicilan.

Main ke Kebun Binatang, Penting Nggak Sih?

Penting! Banyak banget alasan yang bikin harus ajak anak ke kebun binatang. Apalagi udah masuk usia aktif.. Kenapa? Yang jelas, kalau aku pribadi, pengen ngenalin ke Abi kalau di bumi ini nggak cuma ada manusia lho.. ada hewan, ada tumbuhan, dengan segala jenis bentukannya. Pengennya sih, anak jadi lebih menghargai makhluk hidup lain & alam.

Selain itu, aku juga pengen menanamkan rasa sayang. Hal ini bisa lewat memberi makanan kepada binatang. Dengan itu, harapanku, sedari kecil udah tau berbagi dan saling menyayangi nggak hanya sesama manusia aja, tapi semua makhluk ciptaan Tuhan. Main ke kebun binatang juga merangsang vocab-nya lho! Karena ketertarikan pada binatang, akhirnya bisa merangsang dia untuk bertanya dan ngomong. Jadi bisa belajar hal baru dan mengucapkan kosa kata baru.

Sebenernya banyak banget hal-hal lain, intinya ketempat baru yang belum pernah dikunjungi anak itu bagus banget lho! Jadi jangan ragu untuk sering ajak anak jalan-jalan. Ini beberapa foto keluarga kita waktu jalan-jalan ke Secret Zoo, Batu. Recommended buat yang pengen travelling dengan budget yang pas untuk keluarga, kids & baby friendly, dan nggak terlalu jauh.