Term UX Writing sekarang semakin sering terdengar ya. Tapi kok dalam beberapa kasus, aku merasa term ini masih mirip sama yang dilakukan copywriter ya? Hmm, padahal jelas berbeda. Tapi UX Writer yang punya skill copywriting jelas oke banget sih.

Lalu bedanya apa? Kalau simplenya sih, aku sendiri beranggapan kalau copywriting berkaitan dengan commercial. Sementara content yang dibuat oleh di UX writing adalah data driven content.

Jadi penting banget buat seorang UX Writer untuk bisa membaca data, paham dengan flow productnya dan tahu persona untuk product yang dia bangun. Kalau aspek-aspek itu belum bisa dimengerti, rasanya content yang dibikin belum bisa dikatakan sebagai UX Writing ya. Karena UX writing menurutku harus fokus ke user. Lah, kalau nggak ngerti siapa usernya dan behaviour usernya, gimana mau bikin copy message atau content yang valuable?

Content Strategy

Tetep dong, data driven content harus tetep ada content strategy nya. Content strategy ini meliputi brand voice dan UX Writing Principles.

UX Writing Principles terdiri dari 3; Clear, Concise, dan Useful. Clear maksudnya, message yang ditulis nggak berbelit-belit. Misalnya error, error-nya kenapa dan kamu harus ngapain agar error itu tidak terjadi. Concise bisa dibilang content atau message yang efisien. Kalau nggak perlu title ya udah nggak usah pake title yang hanya bikin kalimat penjelasnya jadi berulang-ulang. Useful sering kita lihat pada message di CTA. Message di CTA seharusnya memberikan arahan yang jelas untuk user, apa yang akan mereka lakukan jika memilih CTA tersebut atau direct to the next action. Untuk lebih lengkapnya tentang content strategy bakal aku bahas next aja ya…

Research

Nggak  cuma masalah isi atau pesan yang ingin disampaikan. Sebelum dan setelah membuat content, seorang UX writer wajib banget banget melakukan research. Researchnya macem-macem nih, sesuai dengan kebutuhan dan apa yang belum ada di product development. Misalnya, user persona, user interview, a/b testing dan research lainnya. Semua copy message atau content dalam suatu produk harus jadi valuable conversion. Setelah product digunakan user, seorang UX writer juga harus banget melakukan post-research apakah pesan yang disampaikan itu bisa meningkatkan conversion. Berikut contoh yang bisa kita ambil;

Google bisa meningkatkan engagement rate hingga 17% dengan mengganti copy “Book a Room” dengan “Check Availability”
Veeam meningkatkan conversion rate hingga 166.66% dengan mengganti copy “Request a Quote” dengan “Request Pricing”

Problem, Approach, Solution

Kalau ngelihat dari 2 contoh tadi, sebenernya solusi apa sih yang ditawarkan UX writer agar conversionnya meningkat? Yup, menawarkan user sebuah “variasi” atau kebebasan, nggak intimidating atau mengikat saat “menyuruh” user melakukan suatu action.

Framework yang menurutku simple dan bisa banget digunakan untuk UX writer adalah Problem, Approach dan Solution. Lewat research, seorang UX writer bisa menemukan “problem“, kemudian gimana sih cari dapet solution dr problem tersebut? Nah, gunakan approach baik dari sisi user journey, success metrics, user persona dan yang lainnya. Kemudian baru deh bisa menemukan solution-nya. 

Makanya sekarang banyak denger istilah “content first design” karena content memegang peranan penting banget di sisi UX. 

Kalau content yang kamu tulis diproduk kamu masih belum ada valuable conversionnya, pantaskah itu disebut sebagai UX Writing?

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *