Belakangan ini, aku lagi banyak membaca buku-buku yang berkaitan dengan product. Entah product management, how to build a product, dan tema lainnya seputar product. Dan sampailah pada kesimpulan.

Product thinking harusnya di emphasize di ranah UX. Aku merasa product thinking adalah modal utama bagi ux designer untuk menciptakan sesuatu yang solving user’s problems. Tanpa product thinking dan hanya mengandalkan design thinking aja, aku merasa mustahil menciptakan sesuatu yang “meet the user needs and goals”.

Specific Problems

Kalau bicara soal UX Design, beberapa orang kebayang soal gimana sih cara menciptakan produk yang secara tampilan “beautiful” tapi berguna buat user dan membuat user nyaman untuk terus menggunakan produk itu. Put user first, teorinya. Product thinking mengcover hal-hal dari sisi UX tersebut, tapi juga beyond that ux term.

Product thinking mengharuskan kita untuk lebih peduli pada masalah-masalah spesifik yang dihadapai user, apa yang user ingin selesaikan saat menggunakan produk kita (jobs to be done), user goals, dan tentu saja dari segi bisnis; revenue. Product thinking mengharuskan kita melihat sesuatu lebih spesifik dan berbagai sisi.

Ketika kita membuat suatu produk, harapannya pasti dapat digunakan oleh target user kita dan produk kita dapat menyelesaikan masalah mereka. Nah, baru bisa disebut produk yang punya value. Tapi, ketika solusi yang kita tawarkan tidak menyelesaikan masalah user, produk kita tidak mereka gunakan, apa sih artinya? Artinya masalah itu sebenernya nggak exist. Bisa jadi “user problem” tersebut hanya ada dalam pikiran kita sebagai designer.

It’s not the customer’s job to know what they want

Steve Jobs

Buat apa menghabiskan waktu dan uang buat bikin produk yang nggak dipengenin user sih? Solusi yang salah masih bisa kita ubah, tapi kalau emang “user problem”-nya nggak exist? Product yang kita buat akan meaningless.

Awal kemunculan Grab, apakah sudah memberi solusi?

Contoh; ketika Grab masuk ke Jakarta. Menawarkan solusi buat user yang repot nyari taksi pas jam2 macet. Masalah ini ternyata emang bener dialami user di Jakarta. Artinya the proble is exist. Tapi solusi yang ditawarkan ternyata belum benar. Karena di Jakarta kalau macet bukan cuma susah nyari taksi, tapi jalan juga nggak gerak kalau pake mobil, makanya butuh yang gampang dicari tapi juga cepet sampe ketujuan. Nah, jadi bertambah nih solusi yang ditawarin Grab, yaitu dengan Grab bike. Dari segi bisnis-pun, grab bike bisa dibilang lebih efisien dan mendatangkan revenue yang lebih daripada harus kerjasama dengan armada taksi.

Life before Spotify

Sebelum ada Spotify pun, kita nyaman-nyaman aja dengerin via CD, beli musik di iTunes, youtube atau bahkan download ilegal hehe. It’s not the customer’s job to know what they want. Spotify kemudian memberikan solusi atas hal yang “user inginkan”, bisa dengerin musik tanpa repot tapi juga legal. Sebelum Spotify, kita nggak kepikiran atau sampe demo minta dibikinin music streaming app kan?

Dengan rajin mengamati apa yang terjadi pada manusia, kita sebagai designerpun akan lebih peka terhadap masalah yang terjadi. Terkadang kalau udah terjun dalam industri ini, seorang UX Designer bisa jadi terlalu fokus dengan fitur baru. Tapi lupa dengan produknya sendiri. Remember, features don’t work without the product.

Product Thinking Framework

Framework ini aku temukan disalah satu artikel di Medium. Sebelum membuat suatu fitur atau suatu produk, aku membiasakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini terlebih dahulu.

Source: Medium
https://medium.com/@jaf_designer/why-product-thinking-is-the-next-big-thing-in-ux-design-ee7de959f3fe

Kalau kita udah bisa mendefinisikan Problem-Solution Fit dari fitur dan product yang kita buat, artinya product tersebut sudah memiliki core value dan bisa jadi product yang meaningful. Meaningful untuk user, meaningful untuk stakeholder, dan tentu saja meaningful untuk designer-nya.

Selain framework diatas, untuk memperkuat Problem-Solution Fit, seorang UX designer juga bisa menjawab pertanyaan ini. Pertanyaan ini juga bisa membantu designer saat bernegosiasi dengan stakeholder. Jika semua sudah terjawab, maka produk atau fitur yang akan didevelop memang layak untuk didevelop.

Source: Medium
https://medium.com/@jaf_designer/why-product-thinking-is-the-next-big-thing-in-ux-design-ee7de959f3fe

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *